welcome

Leave a comment


 

sm

Leave a comment

masih disiapkan

AKU BERBAHAGIA

Leave a comment

INFO Rumah Pemulihan Efata

Leave a comment

melayani :
Trauma Healing
Rehabilitasi / Pemulihan Jiwa dari Stress dan Depresi
Schizophrenia
Pastoral Konseling dan Konseling Kejiwaan
Pemeriksaan Psikologi : Diagnosis Kejiwaan, Test Kepribadian, IQ, Bakat, Minat, dll.

CP: Bp David Hadi Wibisono

Rumah Pemulihan “EFATA”/Lembaga Psikologi Terapan “EFATA”
Jl. Raya Salatiga – Kopeng km.6 RT.009 RW 005
Sumogawe – Getasan
Telp. 0298-7187184 HP. 081225575777

UJIAN NEGARA

Leave a comment

STT EFATA TELAH MENYELENGGARAKAN UJIAN NEGARA

Daftarkan diri Anda segera!

PENGGEMBALAAN PB

Leave a comment


Tuhan Yesus merupakan tokoh utama dalam pengkajian mengenai peran pelayanan penggembalaan atas umat Tuhan menurut Perjanjian Baru. Tuhan Yesus membuktikan bahwa diriNya adalah gembala yang baik. Selaku gembala yang baik, Ia memberikan nyawaNya untuk domba-dombaNya (Yoh. 10 : 11). Maka naiklah Tuhan Yesus ke atas bukit dan memanggil orang-orang yang dikehendakiNya, ditetapkanNya dan diutusNya mereka memberitakan Injil (Mar. 3 : 13, 14). Bila dikaitkan dengan pernyataan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus bahwa Allah pula yang memilih baik rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala maupun pengajar-pengajar untuk pelayanan pekerjaan Tuhan (Ef. 4:11,12). Agar lebih jelas memahami mengenai panggilan pelayanan penggembalaan umat Tuhan menurut Perjanjian Baru, maka berikut ini adalah paparannya.

2.1.2.1.Panggilan Sebagai Rasul.

Rasul dalam bahasa Yunani adalah apostolos. Kata apostolos berasala dari dua suku kata yakni apo dan stelo yang dapat diartikan sebagai yang datang dari Tuhan. Kaitan ini menjadi landasan untuk memahami panggilan kerasulan seseorang. “Para rasul bertanggungjawab untuk memberitakan kesaksian yang benar tentang Kristus. Merekalah yang pertama diutus Tuhan Yesus untuk menyampaikan dan mengajarkan apa yang telah diberikanNya kepada semua orang. Berita keselamatan di dalam Kristus merupakan tujuan utama yang harus diwartakan”6. Para rasul merupakan tokoh-tokoh yang secara langsung melayani dengan Tuhan Yesus, sebelum Ia terangkat ke Sorga. Apa yang disaksikan para rasul, sesungguhnya adalah suatu pengalaman secara langsung bersama Kristus (I Yoh. 1 : 1 – 4). Para rasul diberi tugas secara khusus untuk membangun gereja Tuhan atau tubuh Kristus dan memastikan bahwa tubuh Kristus yang dibangun berdasarkan pengabdian kepadaNya (Mat. 16 : 17, 18). Sesaat sebelum Kristus terangkat ke Sorga, Ia memberi tanggungjawab  yang harus dikerjakan rasul-rasulNya. Para rasul harus bisa menggembalakan umatNya sebagai bukti kasih mereka kepadaNya. Salah satu bukti kasih seorang rasul kepada Tuhan Yesus dapat dilihat melalui kesetiaan dan kasih yang ditunjukkan dalam melayani umat Tuhan (Yoh. 21 : 15 – 19).

2.1.2.2.Panggilan Sebagai Nabi

Tuhan Yesus disebut sebagai nabi (Mat. 21 : 11). Yohanes Pembatis juga disebut sebagai nabi (Mat. 21:26). Yohanes pembaptis menyampaikan Firman Tuhan kepada umat manusia untuk mempersiapkan diri menerima Mesias. Sebab Mesiaslah yang akan berperan selaku gembala yang baik. Ia akan memberikan NyawaNya untuk menebus umatNya dari maut. Fungsi penggembalaan melalui pesan kenabian inilah yang akan memberikan pencerahan sehingga umat manusia tidak salah dalam menentukan sikap dan keputusannya, namun tetap berjalan dalam setiap kebenaran dan kehendak Tuhan. Rasul Paulus dengan tegas dan tepat menjelaskan bahwa peran seorang nabi dalam pertemuan ibadah sangat penting. Hal ini dilatarbelakangi oleh fungsi dari kehadiran seorang nabi.  Nabi akan bernubuat, ia akan menyampaikan pesan-pesan Tuhan kepada manusia baik untuk waktu itu maupun untuk waktu-waktu mendatang. Kehadiran seorang nabi dalam pertemuan ibadah akan membangun iman orang lain.  Melalui pesan kenabian akan membuka pola pikir terutama bagi mereka yang baru pertama hadir dalam pertemuan ibadah jemaat mengenai rahasia Ilahi (I Kor. 14:3, 4, 22 – 25).

2.1.2.3.Panggilan Pemberita Injil.

Para pemberita Injil menerima panggilan yang mulia untuk bersama-sama para rasul Kristus dalam  menyampaikan berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Disamping berperan sebagai pemberita Kabar Baik bersama murid-murid Tuhan Yesus para pemberita Injil juga bertanggungjawab untuk mengangkat pemimpin jemaat yang terlibat dalam melayani pekerjaan Tuhan. Rasul Paulus menuliskan suratnya kepada Titus supaya Titus dapat mengatur pekerjaan pelayanan dan juga mengangkat para penatua yang akan membantu proses pelaksanaan pelayanan penggembalaan jemaat di pulau Kreta (Titus 1 : 5 – 8). Kaderisasi jemaat supaya dapat dilibatkan dalam pelayanan merupakan tugas penting dalam rangka penggembalaan yang utuh bagi jemaat Tuhan yang multikompleks. Melalui keterlibatan jemaat Tuhan yang telah dikader sehingga dapat membantu dalam pelayanan sangat berpotensi guna penyebarluasan berita Injil.

2.1.2.4.Panggilan Pengajar.

Guru adalah kunci keberhasilan mengajar. Hal ini  dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa yang mengajar, sesungguhnya lebih mengetahui apa yang hendak diajarkan kepada peserta didik. Tanpa dasar pengetahuan yang benar mengenai apa yang hendak diajarkan, maka proses belajar mengajar tidak akan berhasil. Para pengajar harus bisa bersama-sama dengan murid-murid Tuhan Yesus untuk mengajarkan setiap kebenaran yang telah diterima dari Kristus kepada umat. Proses pengajaran tidak hanya menuntut tingkat kecerdasan rasional dari pengajar, namun juga ada tuntutan keteladanan. Fungsi dan bentuk penggembalaan yang diemban seorang pengajar adalah dapat menerangkan dan menjelaskan setiap kebenaran Firman Tuhan sehingga umat dapat memahami, mencerna dan melakukannya. Tidak hanya mengajarkan Kebenaran, namun memberi teladan Kristiani dalam kehidupan setiap harinya. Kristus telah memberi teladan kepada umat manusia (Yoh. 13 : 15), maka rasul Paulus menegaskan tirulah teladanku seperti aku meniru teladan Kristus (I Kor. 4 : 16; Fil. 3 : 17). Dengan demikian para pengajar kebenaran Firman Tuhan dituntut tidak hanya pada batasan memberitahukan atau mengajarakan namun menjadi pelaku dari Firman Tuhan yang telah diberitakan atau diajarkan.

2.1.2.5.Panggilan Gembala

Atas dasar anugerah dan ketetapanNya yang kekal, maka Allah memilih orang-orang yang dikehendakiNya dan diberiNya tanggungjawab melayani umat pilihanNya. Bahkan atas kehendak bebas Allah, Ia memilih Koresh yang bukan tergolong umat pilihan untuk menjalankan fungsi-fungsi penggembalaan kepada orang-orang Israel sewaktu masih ditawan oleh kerajaan Persia. Allah memilih Koresh dan memerintahkan kepadanya untuk membebaskan umat Israel sehingga dapat bersekutu kembali dengan Tuhan Allah. Koresh memrintahkan orang-orang Persia untuk menyokong dana bagi orang-orang Israel yang akan kembali ke negeri mereka dan juga biaya pembangunan Bait Allah di Yerusalem. (II Taw. 36 : 22 – 23; Ezra 1 : 4 – 4; Yesaya 44 : 28). Hal ini memberi suatu pemahaman yang mendalam bahwa Allah yang berhak dan sesuai dengan ketetapanNya yang penuh hikmat, maka Ia menentukan siapa yang diperkenan olehNya untuk menggembalakan umatNya. Betapa pentingnya tanggungjawab pelayanan penggembalaan bagi umat Tuhan.

Gembala bertanggungjawab untuk membina, mengasuh, mengarahkan umat Tuhan dengan penuh kasih. Rasul Petrus dengan tegas menyampaikan supaya dalam melaksanakan pelayanan penggembalaan, janganlah dengan paksaan, namun harus penuh kasih, jangan karena mau mencari keuntungan namun harus penuh pengabdian diri dan jangan berperan seolah-olah menguasai namun harus bisa menjadi teladan (I Pet. 5 :1-5).  Rasul Petrus secara pribadi ditanya oleh Kristus. Apakah engkau mengasihiKu Petrus? Bila engkau mengasihiKu, maka gembalakanlah domba-dombaKu (Yoh. 24 : 15 – 19). Peristiwa ini menjadi landasan yang kuat bagi Petrus sehingga dalam  suratnya ia menegaskan supaya proses penggembalaan dilangsungkan dengan dasar kasih yakni kasih kepada Kristus dan kepada domba-dombaNya. Jemaat yang digembalakan bukanlah obyek untuk mencari keuntungan, namun para gembala dituntut untuk memenuhi kebutuhan umat. Bagi seorang gembala yang mau berkenan kepada Gembala Agung, maka urusan pribadinya tidak menjadi penghambat untuk memikirkan dan membantu memenuhi kebutuhan jemaat Tuhan.

Gembala sidang harus bisa memelihara domba-domba Allah. Ia harus berusaha untuk melayani orang lain, bukan untuk dilayani. Konsep ini, telah dibuktikan Tuhan Yesus. Kehadiran Tuhan Yesus di muka bumi bukan untuk dilayani namun bersedia melayani bahkan memberi nyawaNya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mat. 20 : 28). Gembala selalu perihatin atas kesejahteraan domba-domba dan memiliki mata yang selalu terarah melihat ke segala arah  dimanakah tempat yang berumput hijau, tersedia sumber air yang cukup, tempat istirahat yang rindang dan aman dari binatang-binatang buas. Gembala yang benar tidak mengkhianati domba-domba yang dituntun. Ide ini sangat mendukung konsep Allah sebagai gembala dan umatNya sebagai domba (Maz. 23:1; 79:13; 100:3)[1].

2.1.            Pemahaman Mengenai Bentuk-Bentuk Pelayanan Penggembalaan               

Menyoroti mengenai pelayanan penggembalaan, maka tidak hanya sekedar berteori, namun berbicara pula mengenai bentuk nyata yang dapat diamati. Berikut ini merupakan paparan mengenai bentuk-bentuk pelayanan penggembalaan antara lain:

2.1.1.      Melalui Khotbah

Khotbah merupakan proses penyampaiaan Firman Tuhan bagi orang lain. Raja Daud berkata bahwa berbahagialah orang yang kesukaannya adalah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam, maka ia diumpamakan seperti pohon yang ditanan di tepi aliran  air yang tidak akan layu daunnya, namun terus menghasilkan buah pada musimnya (Maz. 1 : 2, 3). Melihat betapa pentingnya Firman Tuhan bagi umat manusia, maka seperti yang dituliskan nabi Yeremia bahwa seorang penyampai Firman Tuhan harusnya masuk dalam dewan musyawarah ilahi dan menerima pesan dari Tuhan sebelum menyampaikan kepada umat (Yer. 23 : 22). “Karena pesannya harus datang dari Tuhan, maka adalah logis bila yang hendak menyampaikan pesan tersebut harus datang kepada Tuhan dalam saat teduh dihadiratNya untuk menerima pesan yang akan disampaikan kepada umat Tuhan. Setelah pesan tersebut diterima, maka haruslah diolah sedemikian rupa sehingga sewaktu disampaikan kepada umat, maka dapat dipahami”[2]. Melalui  Firman Tuhan, umat akan dituntun ke jalan yang benar. Mereka akan diperlengkapi dengan fondasi iman yang kuat berdasarkan kebenaran Alkitab. Firman Tuhan adalah sumber makanan rohani yang telah disediakan Allah bagi umatNya. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk mnemperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran” (II Tim. 3:16).

2.1.2.      Melalui Pelayanan Sosial.

Pelayanan penggembalaan tidak hanya berbicara mengenai keberadaan rohani umat, namun juga menjangkau hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan lahiriah. “Melalui bantuan-bantuan yang berhubungan dengan kebutuhan lahiriah akan membuka kemungkinan bagi  jemaat-jemaat yang merasa tertolak karena masalah perekonomian yang tidak mencukupi untuk kembali menemukan kehidupan yang baru”[3]. Pelayanan sosial yang tulus, merupakan salah suatu bentuk nyata penggembalaan. Gembala sidang harus bisa melihat dan mengupayakan kesejahteraan umat Tuhan yang tertimpa berbagai kesulitan. Tuhan Yesus dalam pelayananNya, tidak hanya memberi perhatian untuk hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian, namun Ia membuktikan bahwa kebutuhan sosial umat patut diperhatikan dan ditangani. Sewaktu Tuhan Yesus dikerumuni orang banyak hingga sore hari, Ia dengan tegas mengatakan kepada para murid bahwa kamu harus memberi mereka makan. Tuhan Yesus memberi makan untuk lima ribu orang (Mat 14 : 15 – 21).

2.1.3.      Melalui Perkunjungan  

Kristus dalam kesibukan pelayananNya, menempatkan  waktu untuk mengunjungi Marta dan Maria saat mereka mengalami kedukaan (Yohanes 11:1-44). Rasul Petrus mengadakan perkunjungan (Kis. 9:32). Pelayanan perkunjungan membuka kesempatan bagi gembala sidang untuk bisa mengetahui keberadaan yang sebenarnya dari jemaat saat di rumahnya. Pelayanan perkunjungan penting oleh karena perkunjungan rumah tangga memiliki nilai preventif. Sebagai contoh. Salah satu keluarga yang menghadapi permasalahan yang tidak bisa dipecahkan sendiri. Ia tidak mengetahui kemana ia harus pergi dan meminta pertolongan, sebab situasi tidak memungkinkan. Dalam situasi tersebut kehadiran pendeta (Pastor) yang tepat pada waktunya dapat memberi jawaban tersendiri sebab ada peneguhan-peneguhan melalui terang Firman Tuhan[4]. Selain manfaat preventif dari perkunjungan seperti yang dijelaskan di atas, ada pula manfaat lainnya antaralain mempererat persahabatan, memperdalam perkenalan secara langsung,  mengetahui keadaan yang sesungguhnya baik  kebutuhan rohani maupun jasmani dari jemaat sehingga dapat membantu”[5].

2.1.4.      Melalui Konseling

Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sudah ada penjelasan mengenai pembimbingan. “Istilah Counsellor sudah dipakai dalam Perjanjian Lama Bahasa Inggris, misalnya dalam I Taw. 27:32 yaitu Yonathan, saudara ayah Daud adalah seorang counsellor (penasehat). Istilah ini, muncul pula dalam Yesaya 9:5 yakni nubuat mengenai kedatangan Tuhan Yesus. Dalam Perjanjian baru, sering muncul konsep mengenai peran Roh Kudus sebagai penghibur, penolong pembimbing atau counsellor Yoh 14:26. (Bahasa Yunaninya Parakletos dalam bahasa Indonesia penghibur)”[6]. Agar lebih memahami mengenai konseling, maka berikut ini merupakan uraian pengertian konseling. Konseling adalah proses pertolongan yang hakekatnya adalah psikologis atara seorang penolong dengan seseorang/beberapa orang yang ditolongnya dengan maksud meringankan penderitaan  dari yang ditolong. Melalui proses ini, konseli diharapkan dapat memahami dan jika mungkin mengatasi masalahnya[7] Injil Yohanes 4:7–26 merupakan contoh proses konseling yang dilaksanakan Kristus sewaktu bertemu dengan seorang perempuan dari Samaria.  Melalui bimbingan dan nasehat yang diberikan oleh gembala akan menjadi obat untuk mengobati luka yang dirasakan oleh sidang jemaat. Melalui konseling pastoral, gembala sidang dapat menuntun jemaat untuk bisa menerima keberadaan dan berusaha untuk mencari jalan keluar yang dilandaskan atas kebenaran Kitab Suci.

2.2.            Fungsi Pelayanan Penggembalaan

Beberapa manfaat atau fungsi dari pelayanan penggembalaan yang dilangsungkan dengan tepat akan membawa suatu perubahan bagi anggota jemaat yang membutuhkan penggembalaan secara khusus antara lain;

2.2.1.      Fungsi Menyembuhkan

Manusia adalah makluk individu dan sekaligus makluk sosial. Manusia adalah makluk yang menyadari keberadaannya. Ia memiliki tubuh, roh dan jiwa (I Tes. 5:23). Ia memiliki perasaan, kehendak dan pikiran bahkan hal-hal lain yang ada padanya. Inilah posisi manusia sebagai makluk individu. Manusiapun dijuluki sebagai makluk sosial yakni makluk yang tidak bisa hidup tanpa yang lainnya. Ia memiliki orang-orang yang ada di sekitarnya dan juga menyadari bahwa ada yang lebih tinggi darinya yakni Sang Pencipta. Manusia sering mengalami problem yang  terpendam di dalam alam bawah sadarnya. Ia memiliki masalah yang berhubungan dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang yang ada di sekitarnya bahkan dengan Sang Penciptanya sekalipun. Peran fungsional dari pelayanan penggembalaan dengan tujuan menyembuhkan manusia seutuhnya adalah adanya suatu proses pertolongan dari gembala bagi jemaat untuk membantu menyembuhkan berbagai penyakit baik yang berhubungan dengan bagian fisik maupun  luka-luka batin yang disebabkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal ini telah dicontohkan oleh Kristus. Luk. 7 : 21; 8 : 2. Tuhan Yesus menyembuhkan bermacam-macam penyakit. Ia menjangkau bagian kerohanian yang membutuhkan penyembuhan yakni membalut luka karena kekecewaan dengan Tuhan maupun manusia. Melalui kehadiran Roh Kudus bagi orang percaya, maka setiap pergumulan batin dapat diungkapkan kepada Tuhan, sebab Roh Kudus dapat membantu orang percaya melalui doaNya kepada Allah. Raja Daud menyadari bahwa Allah dapat melakukan hal itu sehingga ia berseru bahwasanya Allah telah menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka batinnya (Maz. 147:3). Jadi fungsi penyembuhan dari pelayanan penggembalaan bersifat menyeluruh baik yang berhubungan dengan keberadaan sidang jemaat sebagai makluk individu dan sekaligus sebagai makluk sosial.

2.2.2.      Fungsi Menopang

Berbagai kesulitan yang dihadapi sidang jemaat, kadang sulit ditanganinya sendiri. Sebagai contoh pada saat kehilangan orang tua karena meninggal atau orang yang sangat dicintai,  ketika dalam keadaan sakit yang tak kunjung sembuh atau kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka akan sangat berpotensi memicu suasana kegelisahan atau keputusasaan yang sulit dibereskannya. Akan tetapi Firman Tuhan menyebutkan bahwa “Tuhan itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk” (Maz. 145:14). Tidak akan dibiarkan umat yang berjalan di jalanNya untuk jatuh sampai tergletak Ia menopang tangan mereka (Maz. 37:23-24).  Melalui pelayanan penggembalaan yang berfungsi untuk menopang setiap jemaat yang demikian merupakan suatu kebutuhan Kehadiran gembala merupakan kesempatan untuk bisa mendampingi, menopang dan menguatkan sehingga jemaat yang mengalami krisis demikian tidak terperosok dalam suatu gangguan kejiwaan.

2.2.3.      Fungsi Membimbing

Peran pelayanan penggembalaan yang berfungsi untuk membimbing tidak berperan sebagai  pengambilan keputusan yang dipilihkan oleh gembala. Peristiwa keluarnya umat Israel dari Mesir, merupakan salah satu contoh nyata bagaimana Allah membimbing dan menyertai mereka. Pada saat Musa melihat tindakan umat Israel yang rusak karena penyembahan berhala,  Allah masih memberi kesempatan kepada setiap umat  Israel. Mereka harus memilih menentukan keputusan untuk taat atau tidak (Kel 32:25-26). Namun Allah selalu membimbing umatNya kepada jalan yang benar, seperti yang diungkapkan dalam firman Tuhan ini “ Tuhan adalah gembalaku takkan kekurangan aku, ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau dan membimbing aku ke air yang tenang bahkan memberi kesegaran  bagi jiwaku  (Maz. 23:1-3). Asas dalam membimbing telah dicontohkan Allah. Oleh karena Allah telah memberi teladan, maka kehadiran gembala harus bisa mengarahkan dan membimbing sidang jemaat untuk mengambil keputusan atas apa yang hendak dipilihnya berdasarkan teladan sang Gembala Agung. Sebagai contoh. Pada saat jemaat hendak memilih salah satu pekerjaan  maka kehadiran gembala hanya menolong dan mengarahkan jemaat untuk memilih. Nasehat-nasehat yang akan diutarakan gembala merupakan bagian yang telah dipertimbangkan dengan matang dan tidak bertentangan dengan asas kebenaran Kristiani.

2.2.4.      Memperbaiki Hubungan

Kesalahpahaman antar anggota jemaat atau antara anggota keluarga terkadang terjadi sehingga mengakibatkan adanya keretakan bahkan kerapkali terputusnya hubungan yang telah terjalin. Rasul Paulus sendiri mengakui hal ini. Rasul Paulus dalam suratnya, ia menguraikan bahwasanya Allah sumber damai sejahterah yang memperbaiki hubungan yang telah  retak (Yoh. 15 : 9 – 12). Allah membuktikan segala kasih anugerahNya melalui Kristus yang telah rela mengorbankan diriNya untuk memulihkan kembali hubungan antara manusia dengan Allah oleh karena dosa yang telah dilakukan, sekaligus memberi perintah supaya saling mengasihi satu dengan yang lainnya.   Kehadiran gembala adalah mencoba mencari jalan keluar dengan cara menjalinkan kembali hubungan yang terputuskan antara jemaat yang satu dengan yang lainnya atau antar anggota keluarga. Melalui komunikasi yang jelas, akan sangat membantu dalam proses menjalin kembali hubungan yang putus.  Gembala memberi kesempatan kepada semua yang terlibat dalam persoalan tersebut untuk mengutarakan maksudnya. Setelah semua mengutarakan apa yang ada di hati, maka gembala membantu mengarahkan untuk penyelesaiaan yang bersifat kekeluargaan.

2.2.5.      Mengasuh /memelihara

Proses pemeliharaan atas jemaat merupakan suatu bentuk pendewasaan. Daud menuliskan bahwa melalui gada dan tongkat, ia menemukan penghiburan, sebab ia menyadari bahwa Tuhan adalah gembalanya yang tidak akan membiarkan dirinya untuk tidak dewasa (Maz. 23 : 1 – 6). Gada dan tongkat merupakan alat yang digunakan gembala untuk mendisiplin dan menuntun setiap domba yang digembalakan. Kristus dalam menggembalakan umatNya, Ia selalu melatih untuk menjadi pribadi-pribadi yang dewasa. Tanggungjawab penggembalaan tidak lepas dari proses pendewasaan bagi yang digembalakan. Gembala harus bisa memberi kesempatan untuk jemaat dapat berusaha menyelesaiakan permasalahan yang di hadapinya tanpa ketergantungan kepada gembala. Proses pendewasaan dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada sidang jemaat untuk mencoba menangani masalah yang ia hadapi. Tingkat keberhasilan dalam usaha pendewasaan bukanlah hal yang harus dipermasalahkan, namun menjadi refrensi bagi gembala untuk meninjau kembali demi penanganan lanjutan.

2.3.            Tanggungjawab Sebagai Gembala Sidang

Gembala sidang memiliki tanggungjawab untuk mengarahkan jemaat pada kehidupan yang benar.  Tanggungjawab tersebut diuraikan dalam firman dibawah ini : ”Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (I Pet. 5:2-4). Pokok-pokok pendekatan yang dapat diterapkan dalam memahami mengenai pertanggung jawaban pelayanan penggembalaan yang harus dikerjakan oleh seorang gembala sidang dalam proses penggembalaan yang utuh bagi jemaat Tuhan antara lain :

2.4.1.   Memahami Ciri Khas Sidang Jemaat.

Kristus merupakan sentral dalam pengkajian mengenai makna penggembalaan. Sang Gembala Agung selaku gembala yang baik, Ia sangat memahami ciri khas domba-dombaNya. UmatNya dikenal sedemikian rupa sehingga tak ada satupun yang terlewatkan atau hilang dari pantauanNya. Dalam Injil Yohanes 10 : 3, 14 – 16 jelas adanya hubungan timbal balik antara gembala dengan domba. Bahwa Kristus begitu mengenal domba-dombaNya bahkan memanggil mereka menurut namanya masing-masing. Demikian pula domba-dombaNyapun mengenal gembalanya. Lebih dari itu, Ia dengan cepat mengenal domba-domba lain yang bukan dari kumpulan kawanan yang digembalakanNya. Seorang gembala sidang, harus bisa mengenal kekhasan dari setiap sidang jemaat. Dengan adanya pemahaman  mengeni kekhasan yang ada dalam jemaat, maka akan sangat membantu gembala sidang guna memberikan pelayanan penggembalaan yang tepat. Pengenalan kekhasan atas sidang jemaat, akan sangat membantu guna memahami latar belakang dari umat. Dengan demikian kebutuhan dasar dari sidang jemaat dapat terpenuhi. Keragaman karakter dari umat bagaikan bahan mentah yang harus dikenali demi proses pengolahan lanjutan yang tepat. Pengolahan yang tepat, hanya akan terjadi, bila yang mau mengolah telah mengenal bahan yang hendak diolah.

2 .4.2. Menjadi Teladan

Kristus dalam menjelaskan mengenai proses pelayanan penggembalaan atas umatNya menekankan bahwa gembala harus dapat diteladani. Tuhan Yesus tetap memposisikan diriNya  selaku pemberi teladan. Para gembala harus bisa menunjukkan arah dan berani tampil sebagai figur pemberi teladan. Gembala Sidang selaku abdi Allah, haruslah terus dan tetap menjadi penunjuk arah perjalanan kehidupan jemaat di dalam Kristus. Ia harus tahu kemana jemaat diarahkan. Ia harus mempunyai perkiraan tujuan akhir yang hendak dicapai. Ia harus bisa memberi teladan yang baik. Rasul Paulus menuturkan  “Sebab itu aku menasehatkan kamu: turutilah teladanku!” (I Kor. 4:16). Untuk menjadi teladan itu memang tidak mudah. Lebih mudah membuat suatu contoh atau teladan dari pada harus menjadi contoh atau teladan. Menjadi contoh atau teladan bukan sesuatu yang mudah, memang hal ini sulit, namun hal inipun sangat penting[8].

2.4.3.   Memberi  Rasa Aman

“Bila ada anjing hutan atau serigala menyerang domba-domba itu, segera dilawannya binatang  buas itu. Tak dipikirkan dirinya sendiri, asal domba-domba itu selamat. Begitulah sikap seorang gembala yang setia, yang sehari-hari mengembara dengan domba-dombanya”[9]. Allah terus menggembalakan kawanan ternaknya dan menghimpun mereka dengan tanganNya, bahkan anak-anak domab dipangkuNya sementara induk-induknya dituntun dengan hati-hati (Yesaya 40 : 11).  Gembala harus bertanggungjawab atas keamanan dan keselamatan domba-dombanya. Sekali-kali ia tidak akan berperan seperti seorang gembala yang tidak bertanggungjawab. Gembala yang jahat bukannya menjamin keamanan dan kenyamanan domba-dombanya, namun selalu mengeksploitasi mereka. Abdi Allah yang mendapat kasih karunia untuk terlibat dalam proses penggembalaan atas umatNya haruslah terus berperan seperti Kristus yang selalu mempedulikan keberadaan umat yang digembalakan. Gembala sidang harus bisa menumbuhkan suatu keyakinan yang teguh bagi umat bahwa di dalam Kristus ada jaminan keamanan dan keselamatan kehidupan.

Gembala sidang harus masuk dalam dewan musyawarah ilahi (Yer. 23:22). Sebab hanya di dalam dewan tersebut ada sumber keamanan dan keselamatan. Gembala sidang bertanggungjawab untuk meyakinkan sidang jemaat mengenai keselamatan hidup hanya di dalam Kristus. Ia sendiri harus berani berkata seperti kata Ayub. “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau” (Ayub 42:5). Bila fakta seperti yang dialami oleh Ayub, terjadi dalam kehidupan gembala sidang, maka peluang untuk terus mengarah kepada sumber kehidupan bersama sidang jemaat dapat terjadi. Sebab bukan hanya sekedar berteori namun memiliki pengalaman pribadi bersama Sang Sumber Hidup.


6  Ibid. hal. 307.

7  Mesach Krisetya, Teologi Pastoral, (Semarang: Panji Graha, 1998) hal. 3.

[2]  Robert Cowles, Gembala Sidang, (Bandung: Kalam Hidup, 1993) Hal. 41.

[3]  J.L. Ch. Abineno, Pedoman Praktis untuk Pelayanan Pastoral, (Jakarta: Gunung Mulia, 1993) hal. 96.

[4]  Ibid. hal. 94.

[5]  Peter Wongso. Op. Cit. hal. 67.

[6]  Martin Van Beek, Konseling Pastoral, (Semarang: Satya Wacanan, 1992) hal. 3.

[7]  Ibid hal. 6.

[8]  Robert Cowles, Gembala Sidang, (Bandung:   Kalam Hidup) hal. 84-85.

[9]  J. Sinabaan Nababan. Op. cit. hal. 174.

KARAKTERISTIK

Leave a comment

FASILITAS PENUNJANG

1)    Perpustakaan STEFA

2)    Campus Ministry

3)    Kapel

4)    Gedung Kuliah

5)    Asrama Mahasiswa

6)    Laboratorium

KOTA SALATIGA

STT EFATA terletak di kota Salatiga yang beriklim sejuk, berada di ketinggian kurang lebih 600 M dpal. Salatiga memiliki kedekatan dengan daerah-daerah rekreasi seperti: Kopeng, Muncul, Rawa Pening, dan Bandungan maupun Dream Land di kota Salatiga sendiri.

ALUMNI

Para alumni banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan mereka melayani di gereja sebagai hamba Tuhan demikian pula bekerja sebagai pendidik bidang Pendidikan Agama Kristen. Para alumnus dihimpun dalam wadah Persekutuan Alumni STT EFATA(PASTE).

KARAKTERISTIK STT EFATA

WAWASAN VISI DAN MISI

Wawasan visi dan misi dari STT EFATA adalah : 1 Daerah, 1 Gereja, 1 Pendeta. (1 DGP), yang memiliki arti bahwa setiap mahasiswa harus memiliki kehidupan sebagai seorang perintis, dan pembina sehingga mampu membuka daerah pelayanan (church plan) dan mengembangkan menjadi sebuah jemaat lokal, hingga pada akhirnya setelah selesai pendidikan dapat ditahbis menjadi gembala jemaat setempat.

PANCA DHARMA PELAYANAN

Panca dharma pelayanan dan Pengabdian di dalam lembaga pendidikan STT EFATA disebut 5P, yaitu:

1)    Penggembalaan

2)    Pemuridan

3)    Pengutusan

4)    Pekabaran Injil

5)    Pembangunan Jemaat

Jadi dimaksudkan supaya para lulusan STT EFATA dalam pelayanan dan pengabdiannya dibina untuk mengembangkan jemaat yang 5P di atas.

PEMBENTUKAN HAMBA TUHAN

Dalam membentuk hamba Tuhan yang handal, STT EFATA memiliki semboyan, yaitu: KUASA CIPTA WIDYA KARYA KARSA, yang mempunyai arti bahwa setiap hamba Tuhan yang dididik di STT EFATA memiliki kuasa dari Tuhan, kecakapan, ketrampilan dan kemaun baja, kokoh dalam melayani dan mengabdi Tuhan Yesus.

LANDASAN ALKITABIAH

STT EFATA memiliki keyakinan berdasarkan ajaran Alkitabiah sebagai berikut:

1)  Mengakui dan menjunjung tinggi Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

2)  Mengakui dan menerima Allah yang Esa, teridiri dari 3 oknum : Allah Bapa, Allah, Putra dan Allah Roh Kudus

3)  Mengakui dan menerima bahwa Tuhan Yesus adalah Allah Putra, yang menjelma menjadi Manusia adalah Juruselamat dunia, Kepala Gereja, dan batu Penjuru yang Agung

4)  Mengakui bahwa Roh Kudus, menyatakan dirinya dalam berbagai-bagai karunia dan buah Roh Kudus

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.