HAMBA TUHAN

MANUSIA SEBAGAI ABDI ALLAH

Tetapi Engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu, kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelemah-lembutan. Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan, ikrar yang benar di depan banyak saksi. (1 Timotius 6:11-12)

Di belahan bumi manapun, di bangsa dan suku bangsa apaupun serta di masyarakat golongan dan tingkat bagaimanapun secara garis besar eksistenti hamba Tuhan mempunyai dua macam sudut pandang berbeda. Pandangan tersebut adalah:

  1. Memandang Rendah, Remeh dan Negatif

Suara Sumbang, negative, kritikan dan bahkan penghujdan merupakan warna kehiupan seorang abdi Allah. Masyarakat yang berpandangan negative seringkali menganggap bahwa hamba Tuhan adalah orang dengan background potensi rendah, lemah, bodoh, malas dan diwarnai kehidupan yang gagal dan tak berbahagia. Itu sebabnya betapa sedikitnya orang mau menggumuli kehidupan secara sungguh untuk menentukan langkahnya menjadi seorang abdi Allah.

  1. Memandang tinggi, indah dan mulia

Sebagian masyarakat menilai bahwa kehidupan hamba Tuhan itu signifikan mulia, agung, dan amat indah. Begitu tingginya kedudukan seorang abdi Allah dipandang kelompok ini sehingga perkataan seorang pendeta adalah raja, dalam bahasa Jawa popular dengan ungkapan: ”Sabda Pandita Ratu.”

Dalam kelompok  kedua ini ada deretan nama hamba Tuhan yang terkenal yaitu:

a.  Billy Graham yang lebih suka tetap menjadi seorang pendeta dari pada harus menjadi presiden Negara adi kuasa, Amerika Serikat.

b.  Jhon Mott, yang tak tergoyahkan pilihannya untuk menjadi abdi Allah daripada menjadi duta besar USA di Jepang.

Seharusnya setiap abdi Allah menempatkan diri pada kesadaran bahwa kehidupan seorang hamba Tuhan sebagaimana tersurat: “orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.” (1 Timotius 3:1). Berdasrkan kesadaran tersebut maka seorang hamba Tuhan dituntut memiliki kaidah, norma-norma, dan nilai-nilai yang sepadan dengan eksisnya sebagai hamba Tuhan. Dalam hal ini Confucius menyatakan dalam bunga rampai XII, II sebagai berikut: “Hendaklah seorang penguasa bersikap sebagai penguasa, seorang menteri bersikap sebagai menteri, seorang ayah bersikap sebagai seorang ayah dan seorang anak bersikap sebagai seorang anak.”

Dengan kata lain setiap nama atau jabatan memiliki makna, konsekuensi, dan tuntutan sebagai mana adanya nama tersebut. Sehingga sebutah hamba Tuhan yang disandang seorang harus mampu mencerminkan adanya Tuhan dalam kehidupannya. Mencermati hal ini maka perlu diketengahkan keberadaan seorang hamba Tuhan,  yaitu:

1. Manusia biasa

Masyarakat umum dan warga gereja khususnya seringkali lupa bahwa hamba Tuhan adalah manusia biasa dan sebagaimana diungkapkan: “Elia adalah manusia biasa seperti kita (Yakoubus 5:17). Karena sisi ini sering tidak diingat maka tuntutannya begitu tinggi seakaan-akan hamba Tuhan itu sedah seperti Tuhan, Mahatahu, Mahakuasa, dan lain sebagainya. Apabila hamba Tuhan itu tidak dapat memenuhi seleranya ia menjadi kecewa dan patah arang yang tak jarang bukan hanya si hamba Tuhan yang menjadi sasaran kejengkelan dan kemarahanya melainkan gereja dan Tuhan pun menjadi sasaran pelampiasannya.

2. Manusia Ilahi

Di sisi lain, tuntutan masyarakat ini memanga harus disadari secara mendalam oleh setiap hamba Tuhan, bahwa dirinya memang harus memiliki kelebihan atau daya linuwih melebihi orang-orang yang bukan hamba Tuhan. Alkitab memberikan ulasa bahwa abdi Allah memiliki posisi istimewa di hadapan Allah dan manusia perihal berikut ini:

1) Sebutan Hamba Tuhan adalah

  • Manusia ilahi (1 timoitus 6:11)
  • Kawan sekerja Allah ( 1 Kor. 3:9)

2) Memiliki hak untuk mengetahui keputusan Tuhan terlebih dahulu sebelum Allah bertindak. “Sungguh Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. (Amos 3:7).

3)   Memiliki pengertian lebih mendalam dari pada orang lain (Matius 13:10)

4)   Memiliki kuasa dan tanda-tanda istimewa dari Tuhan (Markus 16:20)

Mukjizat

5)  Eksistentsi panggilannya sebagai hamba Tuhan menentukan bahwa ia lebih dari    orang biasa. Perhatikan gambar di bawah ini:

Mukjizat
Diubahkan
Diubahkan

Hamba  Tuhan adalah gembala atau petani, sedangkan jemaat statusnya adalah domba atau gandum

Membahas kehdidupan hamba Tuhan baik sebagai manusia biasa atau sebagai manusiailahi, maka ada beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian bagi setiap orang yang mau menjadi abdi Tuhan yang berkenan bagi Tuhan, yaitu:

1.   Barometer Rohani

Seorang utusan Allah dalam bahasa Yunaninya apostolos maknanya datang dari Tuhan (apo dan stelo)

Maka dalam kaitan ini seorang hamba Tuhan dituntut untuk memiliki perkara-perkara rohani sebagai berikut:

1) Pengalaman Rohani Real

Banyak orang Kristen dan hamba Tuhan yang memiliki kehidupan rohani sama dengan Ayub, yaitu dapat saja takut kepada Tuhan, hidup saleh, jujur, dan menjauhi kejahatan berdasarkan ajaran dan kata-kata orang saja sehingga rasa religiusnya kering dan hanya pada teori-teori belaka. Namun kisah Ayub dalam kitab Ayub 42: 5 mengalami fase baru dalam hidup rohaninya. “Tetapi sekarang mataku sendiri memandang engkau.” Seorang hamba Tuhan harus mengalami apa yang dialami para nabi, rasul, dan semua  utusan Tuhan seperti yang diungkapkan mereka yaitu;

* Tuhan Menamapakan diri (Kejadian 26:2;  Kel. 3:18; 33:11)

* Melihat Allah Tuhan (Kel. 32: 30; Yesaya 6:1-6;  Why. 5:6)

* Mendengar suara Tuhan (Kel. 6:1; Yoshua 1:1; Kisah Rasul 18:9)

Demikian pula para hamba Tuhan harus merindukan pengalaman sebagaimana yang dialami oleh rasul Yohanes, yaitu:

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepadamu (1 Yohanes 1:1). Pelayan real adalah dasar pelayanan semua hamba Tuhan.

2) Disiplin Rohani

Laboratatorium adalah tempat bertapanya seorang ahli kimia untuk menemukan temuan baru,  tempat para ahli medis untuk menemukan senjata pamungkas pembasmi berbagai penyakit. Lalu dimanakah tempat seorang hamba Allah untuk dapat menemukan visi dan misi ilahi yang dapat menjadi berkat bagi umat manusia? Di tempat itu ia dapat bergaul, bergumul dan berkomunikasi dengan Allah di hadapan ilahi. Secara jelas nabi Yeremia mengungkapkan rahasia keberhasilan hamba Tuhan melalui cara sebagai berikut:

    • Yeremia 23:22: “Sekiranya mereka hadir dalam dewan musyawarahku, niscayalah meraka akan mengabarkan firmanKu kepada umat-Ku, membawa mereka kembali dari tingkah langkahnya yang jahat dan dari perbuatan-perbuatannya yang jahat.”

Basilea Slink mengungkapkan:  “Buah-buah pelayan yang engaku petik dan nikmati adalah hasil pergumulan di ruang tersembunyi bersama Allah.”

    • Demikian pula firman Allah kepada Musa bahwa ia diperintahkan untuk membangun kemah Tuhan sebagaimana telah diperoleh dari contoh di atas gunung (Ibrani 8:5). Agar dapat menghayati disiplin rohani maka diketangahkan teladan kehidupan Daniel seorang buangan di negeri asing namun mampu mengubah hidupnya menjadi saksi Tuhan di kerajaan Babil dan Persia:

Beritikad tidak menajiskan diri (Daniel 1:8),

Memiliki Persektuan doa (Daniel 2:17-19),

Mendisiplin diri berlutut, berdoa serta memuji Allah tiga kali sehari walaupun di tengah tantangan (Daniel 6:11),

Membiasakan diri menulis Firman Allah walupun harus bangun dari tidur (Daniel 7:1),

Membiasakan diri memperhatikan kumulan kitab suci walaupun ia sibuk (Daniel 9:2),

Membiaskan diri berdoa puasa untuk mengerti kehendak dan rencana TUHAN (Daniel 10:1-12)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: