TERPAAN BADAI

TERPAAN BADAI MEMBAWA JEMAAT TERBANG TINGGI

Yesaya 40:31

Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Khalik semesta alam Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus Kepala Gereja dan Gembala Agung serta di dalam Roh Penolong, Roh Kudus menganugerahkan kasih karunia yang tak terhingga, telah berkenan mencipta, membentuk, dan menjadikan untuk kemuliaan-Nya (Yesaya 43:7). Hamba Tuhan, para majelis, pengerja, dan warga jemaat GPIAI EFATA memliki keistimewaan-keistimewaan bagaikan burung rajawali. Hal ini nampak dalam perkara berikut ini:

  1. Mata rajawali, yang mampu melihat magsa dari jarak ber-mil-mil dipersonifikasikan pada visi misi untuk menjadi gereja misioner yang menembus batas kota, daerah, propinsi dan negara telah melahirkan pelayanan misi ke seluruh pulau Jawa, Kalimantan, Lampung, Sulawesi dan Papua
  2. Kemampuan untuk mentransformasi diri ketika merasakan kemampuan terbangnya berkurang, yang tak dimiliki oleh burung jenis lain terwujud dalam warga GPIAI EFATA dalam bentuk instropeksi dan penempaan atau penggemblengan diri agar dapat mentransformasi jemaat yang mampu berkarya menumbuhkembangkan gereja. Contoh dalam waktu tujuh bulan mampu membangun gedung gereja secara swasembada (90% dana dari warga jemaat sendiri)
  3. kemampuan naik terbang tinggi di tengah badai dibuktikan oleh seluruh keluarga besar GPIAI yang mampu memanfaatkan arus angin cobaan; dari tahun ke tahun untuk bertumbuh kembang menjadi tubuh Kristus yang kuat dan mapan.

Eksistensi dan bertumbuh-kembangnya GPIAI EFATA di Jalan Brigjend Sudirato 1A Salatiga diblantika sejarah gereja tak bisa dilepaskan dengan keberadaan abdi Allah, Pdt Surya Kusuma yang telah ditahbiskan oleh Pdt. Darmowiyono pada tanggal 19 September 1977 menjadi Pendeta dan gembala sidang Gereja Isa Almasih (GIA) di Kalisombo, Salatiga. Pdt Surya Kusuma dan keluarga hadir di kota Salatiga pada tanggal 19 September 1976 dari GIA Tamansari VIII Jakarta menggantikan Pdt Tjondro Subianto yang mengundurkan diri. Pada tahun 1977 muncullah visi misi dalam diri gembala sidang untuk membeli dan mencari tanah yagn strategis guna dibangun gedung gereja yang permanen. Visi misi ini muncul dan berkembang karena jemaat yang terus bertumbuh dan rumah ibadah (bekas gedung tembakau) di Kalisombo no 2 kurang representative bagi pertumbuhan gereja di masa depan.

Akhirnya sekitar bulan Oktober 1977 didapatkan tanah di Jalan Brigjend. Sudiarto milik Raden Ayu Saparinten Rekso Hadi Prodjo, isteri dari Soewarso Kartodinoto seorang penghayat kepercayaan kebatinan. Tanpa dana di kas gereja untuk pembelian dan pembangunan gereja, gembala sidang diantar oeh almarhum Bapak Yusuf Budiono menjumpai pemilik tanah. Berkat rahmat kasih karunia Allah Bapa, Kepala Gereja Tuhan Yesus dan Allah Roh Kudus, hati romo Soewarso Kartodinoto digetarkan dengan perasaan simpati untuk menjual tanah HM no 412 seluas 478 M2 di Jalan Brigjend Sudiarto, desa Kalicacing seharga Rp 3.300.000,- dengan waktu pembayaran 3 bulan kepada Pendeta Surya Kusuma dengan tambahan 10% tiap bulan; apabila tidak dapat melunasinya dalam jangka waktu tersebut di atas. Di dukung oleh + 50 warga jemaat (sebagian besar mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana) diadakan gerakan doa puasadan pencarian dana untuk pembayaran pembelian tanah tersebut. Walaupun ada keresahan warga jemaat selama 3 bulan menggumuli pembayaran tanah sehingga muncul suara sumbang dari seorang warga jemaat melewati ungkapan: “Kalau tidak bisa membayar, biarlah dengkul pendeta Surya Kusuma dipakai melunasi pembayaran tanah.” Namun Sang Kepala Gereja,Tuhan Yesus Kristus menggerakkan hati Bapak Sam Daniel (alm.) seorang warga jemaat GIA Pegangsaan Jakarta untuk mempersembahkan dana sebesar Rp 1.500.000,- untuk keprluan pelunasan tanah. Akhirnya pembelian tanah dapat dilunasi melewati berbagai mukjizat yang luar biasa sehingga tidak mempermalukan Nama Tuhan Yesus. Selanjutnya pada tanggal 26 Januari 1978 dilaksanakan jual beli di hadapan Ny. E. L. Matu, seorang Notaris PPAT di Salatiga.

Periode pembelian tanah dapat berlangsung mulus dan tibalah masa pembayaran gedung gereja. Setelah rehat beberapa waktu untuk mempersiapkan hati sidang jemaat bagi pembangunan gedung gereja dan mendapatkan gambar gedung gereja dari Ir Gunawan Karta Miharja, warga jemaat GIA Bandung. Setelah menerima blue print / gambar gedung gereja maka dilakukan pengurususan ijin ke Pemerintah Kota Salatiga. Tanpa melewati prosedur berbelit dengan cara yang amat mudah bahkan bebas biaya apapun, Walikota Madya Darerah Tingkat II Kota Salatiga Bapak S. Ragil PUdjono menerbitkan SK Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) No.  134/KEPDA/1978 tertanggal 9 Agustus1978. Dengan adanya IMB tersebut pembangunan gedung gereja segera digulirkan dan dapat diselesaikan serta diresmikan pada tanggal 31 Oktober 1979. Sehingga pembangunan gedung gereja di Jalan Brigjend. Sudiarto yang pertama berlangsung selama kurang lebih satu setengah tahun. Sebagaimana pernyataan Raja Salomo dalam Mazmur 127:7; “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya.”

Dalam periode ini Tuhan Yesus, Kepala Gereja menyediakan malaikat-malaiat pendamping, penolong dan penunjang kepada Bapak gembala sidang untuk membangun gedung gereja Jalan Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga, diantaranya adalah:

1)      Bapak Liwandouw  (†)

2)      Bapak Yusuf Budiono (†)

3)      Bapak Eko Guanwan (†)

Namun amat disayangkan bahwa gereja yang terus bertumbuh dan berkembang baik di gereja lokal dengan 24 Pos Pekabaran Injil di sekitar Salatiga harus terhenti beberapa saat karena ada perbedaan sudut pandang dengan Sinode GIAa perihal Yayasan Sosial Victory yang puncaknya pada tanggal 09 Mei 1985 sinode GIA menyatakan bahwa jemaat GIA Salatiga mengundurkan diri dari Sinode GIA. Sehingga sejak tanggal tersebut Gereja di Jalan Brigjend Sudiarto 1A, bergabung dalam Sinode Gereja Pantekosa Isa Almasih (GPIA). Selanjutnya atas binaan dari Dirjen Bimbingan  Masyarakat Kristen Departemen Agama RI, pada tanggal 22 Agustus 1987 dengan SK No. 86 tahun 1987 badan hukum GPIA disahkan. Dengan demikian nama GPIAI berganti menjadi Sinode Gereja Pantekosa Isa Almasih Indonesia (GPIAI) dan berkantor pusat di Bogor, Jawa Barat.

Pengalaman selama dua tahun dalam tubuh GPIA badan hukum itu adalah seperti yang diungkapkan oleh Bonifasius seorang rahib misioner abad ke VIII, yakni: “Gereja bagaikan bahtera di tengah lautan yang dihantam gelombang … tugas kita bukanlah untuk meninggalkan bahtera, melainkan untuk menjaganya agar tetap pada jalannya.” Berbagai ujian dan cobaan bagaikan gelombang yang menghantam gereja, hanya karena kasih karunia Tuhan Yesus yang menjadi kapten dan juru mudi hahtera, maka bahtera dan seluruh penumpang dapat selamat dan bahtera tetap utuh. Bahkan kasih karunia Allah begitu luar biasa sehingga berada dalam kandungan GPIA, namun oleh Kepala Gereja dijadikan bidan bersama dengan Dirjen Bimas Kristen untuk melahirkan Gereja Pantekosa Isa Almasih Indonesia (GPIAI) di bumi pertiwi. Mengacu pada kasih karunia Allah sehingga mampu membidani dari kandungan sampai lahirnya GPIAI bukan karena kemauan sendiri namun ditunjuk oleh Pdt Ibrahim Tjokorkusumo (selaku ketua Sinode GPIA ) dan, Diren Bimas Kristen Depag RI dan mengamati kebenaran Firman Allah yang tersurat dalam Kitab Yesaya 66:7-9: ”Sebelum menggeliat sakit, ia sudah bersalin, sebelum mengalami sakit beranak, ia sudah melahirkan anak laki-laki. Siapakah yang telah mendengar hal yang seperti itu, siapakah yang telah melihat hal yang demikian? Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari, atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali? Namun baru saja menggeliat sakit, Sion sudah melahirkan anak-anaknya.Masakan Aku membukakan rahim orang, dan tidak membuatnya melahirkan? firman TUHAN. Atau masakan Aku membuat orang melahirkan, dan menutup rahimnya pula? firman Allahmu.”

Maka hari jadinya GPIAI EFATA dihitung mulai dari beradanya dalam kandungan GPIA yaitu tanggal 09 Mei 1985. perjalanan sejarah GPIAI EFATA tak berhenti sebagaibidan atas kelahiran GPIAI di bumi pertiwi, karena atas keputusan Musyawarah Besar Sinode GPIAI ke __ pada tanggal ____ di dan telah dicatatkan dan ditandasahkan di notaris pada tanggal 8 Mei 2008 nomor 1 (satu) memutuskan kantor pusat Sinode GPIAI dipindahkan dari Bogor ke Salatiga. Secara defacto perpindahan tersebut berlangsung dengan berakhirnya Musyawarah Besar ke ­­­V namun baru direalisasikan setelah Bapak Pdt. Ibrahim Tjokrokusumo dan Ibu dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga. Akhirnya pada tanggal  ­­­­6 Agustus 2008 Dirjen Bimas Kristen mencabut SK No. 86 tahun 1987 dan menggantikannya dengan SK No III/Kep/HK.00.5/257/2008 sehingga mulai tanggal dikeluarkan Surat Keputusan Dirjen Bimas Kristen tersebut secara resmi GPIAI EFATA mendapat mandat penuh untuk menjadi kantor pusat GPIAI seluruh Indonesia.

Pengelolaan Visi Misi GPIAI EFATA (yang pada dasarnya mempengaruhi bertumbuh kembangnya GPIAI  di Indonesia), diilhami wahyu dari Gembala Agung Tuhan Yesus Kristus kepada hambanya Pdt. Surya Kusuma, yaitu:

1)      Dasar Visi Misi; menjadikan GPIAI gereja misioner sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dalam Matius 28:18-20:

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

2)      Gagasan VIsi Misi, adalah perintisan dan pembentukan Gereja: 1 Daerah, 1 Gereja, 1 Pendeta.

3)      Pola Pelaksanaan visi misi melewati proses 5P, yaitu: Penggembalaan, Pemuridan, Pengutusan, Pekabaran Injil, dan Pembangunan Jemaat.

Pelaksanaan Visi MIsi 5P direalisasikan di jemaat GPIAI EFATA Jl. Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga adalah sebagai berikut:

  1. PENGGEMBALAAN

Didasari pergumulan untuk mendapatkan konformasi yang jelas tentang panggilan khusus sebagai seorang hamba Tuhan, dalam bidagn 5 jabatan gerejawi dan Kepala Gereja Tuhan Yesus telah mewahyukannya untuk menjadi soerang gembala maka segala derap langkannya selaku abdi Allah selalu berpusat dari visi misi seorang gembala. Dari dasar panggilan inilah GPIAI EFATA dikembang-tumbuhkan selama 25 tahun yang dapat dijabarkan meliputi penggembalaan sebagai berikut :

1)      Gereja Lokal

GPIAI EFATA Jl. Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga menggembalakan warga jemaat lintas umur, suku, karya, perekonomian pendidikan atau intelektual serta bermacam-macam karakter, background, pandangan dan pemahaman iman Kristen. Selama 25 tahun menggembalakan jemaat gembala sidang didampingi oleh ibu gembala sidang, majelis, para mahasiswa STT EFATA, dan warga jemaat yang dimuridkan (tidak ada pendeta lain). Strategi penggembalaan yang diterapkan oleh gembala sidang adalah:

  1. berusaha memberi makanan rohani yang sebaik-baiknya berdasarkan kebenaran firman Tuhan bahwa domba yang masuk dan keluar kandang melalui Tuhan Yesus menemukan padang rumput (Yohanes 10:9) maka pelayanan firman sebagai makanan rohani tidak boleh makanan rohani yang basi dan tak mencukup sehingga pelayanan khotbah diolah dari hasil pergumulan dengan kualitasnya dari wahyu Sang Gembala Agung. Mengikuti prinsip dari Rasul Paulus, yang tersurat dari Galatia 1:11-12: “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.”

Pelayanan pewartaan dan penafsiran Firman Tuhan dilaksanakan melewati proses pergumulan perncarian wahyu. Inilah ciri penggembalaan di GPIAI EFATA.

  1. Persekutuan Doa

Berdasarkan apa yang tersurat dalam kitab Yakobus 5:13-18

Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan enyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni. Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya.

Penggembalaan melewati doa diselenggarakan dari hari Selasa sampai Jumat Pagi dan Persekutuan Doa Tembok Ratapan diadakan setiap hari Sabtu. Dari pelayanan doa ini banyak mukjizat terjadi: orang sakit disembuhkan, masalah keluarga dipecahkan, beban dilepaskan dan berbagai kasus diselesaikan.

  1. Pastoral Konseling

Warga jemaat yang mempunyai masalah termasuk yang akan menikah dan baptis akan mendapat pelayanan pastoral konseling. Pastoral konseling pranikah dan baptisan dilaksanakan selama 3 bulan melewati 12-14 kali pertemuan.

  1. Visitasi

Gembala sidang membentuk tim Visitasi yang bertugas mengunjungi jemaat secara kontinyu dari hari Selasa sampai Jumat ke rumah-rumah warga jemaat. Apa yang tidak dapat diselesaikan atau diatasi oleh tim visitasi, akan diserahkan kepada Bapak dan Ibu gembala sidang untuk dilayani secara khusus.

  1. Pembentukan Komisi

Agar semua warga jemaat lintas umur, mendapat pelayanan yang sesuai dengan umur mereka maka dibentuklah komisi Sekolah Minggu, Tunas Remaja, Remaja, Pemuda, Kaum bapak, Kaum Wanita, Pasangan Suami isteri (Pasutri), diakonia (menangani Lansia) bahkan sampai Komisi Pelayanan Kematian. Komisi Kebaktian Anak (atau Sekolah Minggu) memiliki 24 pos di Salatiga dengan jumlah 246 anak.

  1. Pelayanan Para Pekerja

Untuk menjangkau para pekerja agar dapat memberikan pelayan yang prima, dan berkualitas, maka dibentuk komisi Persekutuan Pelayanan Pekerja Efata (P3E).

  1. Pelayanan Grassroot (akar rumput). Untuk mendukung pelayanan penggembalaan sampai akar rumput maka dilaksanakan pelayanan sel. Dalam perkembangannya dari kelompok sel ini mengalami perubahan dari Mezbah Keluarga (KMK), menjadi pelayana RAYON, dan akhirnya menjadi PIKAT (Persekutuan Iman Kristen Agar Tumbuh). Saat ini PIKAT memiliki 15 kelompok , yaitu:  Pikat Rajawali, Pikat Sion, Pikat Hermon, Klaseman, Rekesan 1 & 2, Kemiri, Argomas, Dukuh, Banjaran, Togaten, Jangkrikan, Kembangarum, Serayu dan Tegalrejo.
  1. Pelayanan Diakonia

Penggembalaan pada orang-orang tidak mampu mendapat perhatian melewati pelayanan berikut:

  • Pelayanan Diakonia, setiap bulan 2 kali pertemuan untuk memberikan pelayanan rohani dan asupan gizi kepada para lansia
  • Pelayanan pendidikan, anak yang kurang mendapat kesempatan belajar dilayani melewati aksi Yayasan Sosial Victory (berlangsung sampai tahun 2000). Pelayanan tersebut tercatat ada 760 anak yang mendapat bantuan pendidikan dan kesehatan. Berikutnya melalui Yayasan Sanggar Kamulyan yang sekarang diteruskan oleh API (Aksi Pelayanan Iman) untuk membantu anak-anak dalam bidang pendidikan.
  1. Pelayanan Kematian

Komisi Pelayanan Kematian dibentuk untuk membantu warga jemaat yang berdukacita karena salah satu anggota keluarga meninggaldan bila ada yang tidak mampu membeli peti akan diusahakan untuk membantu biaya pembelian peti mati. Komisi ini juga dibentuk untuk melaksanakan perawatan jenazah dan mengatur pelayanan upacara penguburan baik di rumah duka maupun di pemakaman terakhir.

  1. Pelayanan orang-orang yang mengalami gangguan tekanan kejiwaan dan Orang sakit

Wawasan penggembalaan menjangkau pula prang yang menghadapi permasalahan kejiwaan, sehingga didirikan Ruman Pemulihan Efata (RPE). RPE dibidani oleh David Wibisono (menantu gembala sidang), dan Shirley Anggeline maka lahirlah RPE pada tanggal 26 Nopember 2006RPE bertempat di area bangunan kampus STT EFATA. Di tempat ini ditampung orang-orang yang mengalami mengalami gangguan kejiwaan dengan berbagai latar belakang permasalahan. Dengan kasih karunia Tuhan Yesus, penyembuhan terjadi dan yang paling menggembirakan adalah mereka menerima Tuhan Yesus sebagai  Juruselamat, bahkan saat ini bersama Pdp David Wibisono, Saudara Edi setelah keluar dari RPE merintis dan menjadi pilar berdirinya GPIAI EFATA cabang Magelang. Ini merupakan kasih dan anugerah Tuhan, Haleluyah!

2)      Penggembalaan kepada para.gembala jemaat dan pemimpin jemaat GPIAI

Meniru teladan Rasul Petrus, yang menggembalakan para gembala sebagaimana terungkap dalam suratnya berikut ini:

Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak  Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. Maka kamu, apabila Gembala Agung datang, kamu akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. (1 Petrus 5:1)

Pendeta Surya Kusuma sebagai salah seorang pendiri, ketua Sinode dan gembala senior melaksanakan pelayanan kepada seluruh rekan gembala da pimpinan jemaat melewati Musyawarah Besar, Convent pendeta dan visitasi-visitasi ke gereja-gereja. Sedangkan bagi GPIAI EFATA disamping hal-hal tersebut, telah dibentuk pula sebuah wadah khusus yang disebut Persekutuan Abdi Kristus EFATA (PAKTA) dan melalui wadah ini penggembalaan disalurkan baik langsung maupun melewati Majelis Daerah.  Didasari beban penggembalaan seta visi misi dari gembala Agung Tuhan Yesus untuk membentuk gereja missioner, tertata dengan baik, kuat mapan memiliki rasa kasih persaudaraan, kekeluargaan dan bersatu maka berbagai usaha penggembalaan telah dicetuskan dan disahkan dalam Musyawarah Besar sehinga karya-karya tersebut telah resmi menjadi way of life  penggembalaan, pengabdian, dan warna bagi seluruh keluarga besar GPIAI. Karya-karya tersebut adalah:

    1. Credo atau Pengakuan Iman Percaya GPIAI (disahkan dalam Mubes II di Wisma Kinasih Bogor)
    2. Angaran Dasar dan Rumah Tangga GPIAI (disahkan dalam Mubes II di Wisma Kinasih Bogor)
    3. Liturgi Ibadah GPIAI (disahkan dalam Mubes II di Wisma Kinasih Bogor tanggal 12-14 Juni 1990), diantaranya:
  • Tata ibadah pentahbisan gedung gereja
  • Tata ibadah penyerahan anak
  • Tata ibadah peneguhan nikah
  • Tata ibadah pentahbisan Penginjil, pendeta pembantu, dan pendeta muda
  • Tata ibadah pentahbisan gembala siding
  • Tata ibadah upacara kedukaan
    1. Penjelasan Credo (disahkan dalam Musyawarah Besar III)
    2. Dogma atau pengajaran iman Kristen GPIAI (disahkan dalam Mubes III di Salatiga). Credo atau iman Kristen tersebut meliputi:
  • Pemahaman tentang Alkitab Perjanjian Lama  dan Perjanjiab Baru adalah firman Allah
  • Pemahaman tentang Allah Tritunggal dalam Allah Bapa, Allah Putera, Tuhan Yesus Kristus dan Allah Roh Kudus
  • Kristus dan keselamatan bagi orang percaya
  • Gereja: sakramen, jabatan gerejawi dan seluruh perlengkapannya
  • Pengajaran tentang Eskatologi; perjalanan gereja dari kekal sampai dengan kekal

Catatan: Semua bahan dan hasil karya penggembalaan ini juga menjadi dasar pengajaran dogma di STT EFATA. Wawasan penggembalaan turut dilaksanakan dari Mubes ke Mubes.

3)      Penggembalaan Kota

Didasari kebenaran firman Allah melewati nabi Yeremia sebagai berikut:

29:7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. (Yeremia 29:7)

Gembala Sidang GPIAI melaksanakan pelayanan penggembalaan kota Salatiga melewati jalur berikut ini:

  1. Badan Kerjasama Gereja-gereja se Kota Salatiga (BKGS)

Gembala sidang dipercaya oleh gereja-gereja Salatiga untuk menjadi ketua BKGS dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2007 dan dar tahun 2007 sampai 2011 menjadi ketua dewan penasihat BKGS.

Penggembalaan selama menjabat ketua BKGS antara lain:

  1. menjaga hubungan antara gereja untuk dapat saling hormat dan menghormati satu sama lain
  2. membangun hubungan antara pimpinan jemaat dan pendeta lintas denominasi
  3. membantu izin pembangunan gereja (contoh GPDI Butuh)
  4. membangun hubungan dengan Pemkot Salatiga
  5. mengawali BKGS dalam Pesparawi nasional di UKSW dan dapat merebut beberapa tropi kejuaraan
  1. Lintas agama
  1. Forum Hatti Beriman

Dalam situasi tegang karena terjadi pengrusakan di kota Solo, Kartasura dan Boyolali dan akan terus menjalar ke kota salatiga memunculkan inspirasi untuk membentuk forum kerukunan umat beragama yang mendapat sambutan dari Pimpinan lintas agama bahkan dari walikota, Bapak Soewarso. Pimpinan umat beragamatersebut adalah Bapak Zainudin Zurri  (ketua PB NU Salatiga), Bp Soeparlan (Pimpinan Umat Hindu), Romo Suryo Sunaryo (Katholik), dan dari Pimpinan umat Budhis. Dari sini terbentuklah forum kerukunan umat beragama yang disebut Hatti Beriman, dengan karya-karya antara lain:

  • Melaksanakan doa bersama di lapangan Pancasila
  • Mengirim bantuan eras ke daerah bencana alam gunung merapi Kaliurang
  • Terwujudnya kota salatiga tetap aman, walupun di kota lain diwarnai ketegangan dan kerusuhan
  1. Majelis Puasa

Dalam perkembangannya forum Hatti Beriman pada masa Walikota Bapak Totok MIntarso dan Kakandepag Kota Salatiga, Yudi Amin ditransformasi menjadi Majelis Puasa (Majeis Pemuka Umat Agama Salatiga) bahkan disahkan oleh Walikota Salatiga.  Agar memudahkan komunikasi dan pelayanan terhadap warga lintas agama, Majelis Puasa telah diberikan kantor di Departemen Agama Kota Salatiga (Kementrian Agama Kota Salatiga, red.)

Majelis Puasa ini berperan penuh untuk memelihara kota Salatiga agar tetap kondusif, aman dan damai sejahera. Hal yang dilaksanakan antara lain:

  • Mengadakan wawasan kebangsaan dengan keynote speaker ketua PBNU, DR. K.H. Hasyim Musadi, dan Ketua Umum PGLII, Bp. Noes Reimas
  • Silaturahmi para pimpinan umat beragama di Tawangmangu dilaksanakan dua kali dan tiga kali di Vihara Kopeng.
  •  Memenuhi panggilan silaturahmi Departemen Agama RI di Semarang dalam acara sharing untuk rencana pembentukan FKUB
  • Menyambut tamu dari NTB dan Kepulauan Riau dalam acara study banding mengenai Kerukunan Umat beragama di Salatiga
  • Menggagas tempat wisata religius dan sudah direspon oleh Pemkot Salatiga
  1. Forum Kerukunan Umat Beragama

Ikut terlibat dalam pembentukan FKUB sehingga terbentuk kepengurusan FKUB dengan formula 9.5.1.1.1 (9 dari Islam, 5 dari Kristen / Katholik, dan masing-masing 1 dari Hindu, Budha dan Kong Hu Cu), denga ketua K.H Drs. Tamam Qoerlany, dan wakil Pdt. DR. Surya Kusuma, M.Min, dilantik oleh Walikota Salatiga pada tanggal 22 Agustus 2007.

FKUB Salatiga dari pelantikan sampai sekarang telah melaksanakan berbagai aktifitas antara lain:

  • Membuat buku etika kerukunan umat beragama dan sudah disosialisasikan di 4 kecamatan  di kota Salatiga. Dan di dalam silaturahmi para tokoh agama dan masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada di Salatiga dengan mengambil tempat di gedung Pemerintah Kota Salatiga.
  • Mendukung gagasan wisata relijius Kota Salatiga dan telah melewati berbagai musyawarah yaitu:

–          gambaran wisata relijius sudah selesai dibuat dan diterima oleh seluruh pimpinan lintas agama

–          sudah ditanda tangani oleh Walikota Salatiga dan Pimpinan lintas Agama

–          saat ini tinggal menunggu pelaksanaan pembangunan

  1. Lintas kota dan denominasi Gereja

Wawasan visi misi menembus batas kota karena dalam perjalanan pengabdian kepada Tuhan telah dipercaya untuk menjadi ketua PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia) Jawa tengah dalam dua periode yaitu 2002-2007 dan 2007-2011. sebagai pimpinan PGLII Jawa Tengah telah membentuk kepengurusan di berbagai Kota Kabupaten di Jawa Tengah, yang sebelumnya belum ada. Juga diadakan musyawarah antar pengurus PGLII untuk membangun kekeluargaan dan visi misi.

  1. PEMURIDAN

Bertumbuh kembangnya gereja di muka bumi tak dapat dilepaskan dari wawasan pemuridan dan pembentukan serta pembinaan para kader penerus seperti yang diungkapkan oleh Rasul Paulus:

Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain. (2 Tim 2:2)

Berkaitan dengan firman Tuhan di atas, maka gembala siding amat menyadari kebutuhan untuk merekrut, dan mendidik para murid yang dapat diharapkan untuk menjalankan semua visi misi yang dibebankan kepadanya. Sejak awal pelayanannya visi misi pemuridan dilaksanakan:

1)      mendidik dan mengkader kaum awam untuk mampu melayani baik di komisi-komisi, sel maupun di pelayanan daerah

2)      sebelum memiliki lembaga pendidikan theologia memasukkan anak-anak rohani ke Sekolah Alkitab; ATAS dan STJKI

3)      membentuk Sekolah Alkitab Malam (SAM) kemudian berkembang menjadi Sekolah Injil Awam Victory

4)      membentuk STT EFATA

Beban dan wawasan Pendeta Surya Kusuma untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikat tinggi Theologia tidak timbul hanya sat malam saja, namun dihasilkan dari suatu proses perenungan dan pergumulan yang panjang disertai dengan keprihatinan yang amat mendalam berkenaan dengan ladang Tuhan. Rasa keprihatinan dari hari ke hari bertambah kuat menekan karena melihat:

  1. luasnya ladang pelayanan di seluruh Indonesia yang menunjukkan betapa banyaknya orang-orang yang memerlukan keselamatan
  2. sedikitnya hamba Tuhan yang mau terjun ke ladang-ladang pelayanan yang sudah menguning
  3. kurangnya hamba Tuhan yang berkualitas dlihat dari segi dedikasi, motivasi  pengetahuan theologies, pengetahuan umum dan praktis serta kuasa dalam kata-kata dan tindakan

Didasari hal inilah maka wawasan itu bergulir yang bukan hanya terbatas ide belaka namun akhirnya visi dan misi ini melahirkan Sekolah Tinggi Theologia EFATA (STEFA) pada tanggal 7 Agustus 1993. STEFA menerima status Terdaftar dari Menteri Agama RI, H.A. Malik Fadjar melalui Surat Keputusan Nomor 351 tahun 1999 untuk program Sarjana Theologia (S1). Pada tanggal 1 Maret 2004 kembali memperoleh status terdaftar untuk Program S1 Theologia dan S1 Pendidikan Agama Kristen (PAK) dari Direktorat Bimas Kristen Departemen Agama RI dengan nomor DJ.III/Kep/IIK.00.5/31/582/2004. Pemberian status berlaku untuk setiap 5 tahun. Pada tanggal 23 Maret 2005 team Akreditasi dari Direktur Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diwakili oleh Ibu Audita dari Dirjend Bimas Kristen Departemen Agama RI melakukan akreditasi ke STT EFATA. Dan status STEFA ditingkatkan menjadi DIAKUI.

Selanjutnya pada tanggal 23 Januari Team penjamin mutu yaitu Bapak Edison Pasaribu dan assessor Badan Penjamin mutu Pendidikan Tinggi Theologia Bapak Daniel Nuhamara melakukan kunjungam ke STT EFATA untuk persiapan Akreditasi  STT EFATA dan telah mendapat rekomendasi untuk akreditasi oleh BAN (Badan Akreditasi Nasinonal).  Dengan demikian STT EFATA memenuhi syarat untuk masuk dalam pengawasan BAN PT.

Sejak lahirnya pada 7 Agustus 1993 sampai sekarang, STT EFATA telah memberi beasiswa kepada 163 mahasiswa dengan biaya sebesar Rp 1.038.466.000. sedangkan biaya operasional selama ini baik untuk pengadaan tenaga pengajar, perlengkapan perkuliahan, kantor, pembelian tanah dan pembangunan Kampus 1 dan 2 juga sangat besar.

PEMBANGUNAN KAMPUS STT EFATA

Sebagai sebuah lembaga Pendidikan tinggi maka STEFA telah membangun kampus I, dibangun di atas tanah dan rumah Pdt Surya Kusuma. Dalam perkembangannya akhirnya rumah  gembala sidang secara menyeluruh dimanfaatkan untuk kampus STT EFATA dan Rumah Pemulihan EFATA. Pada tahun 2000 kampus I terbakar. Namun sebagai thema “Terpaan Badai Membawa Jemaat Terbang Tinggi”, kebakaran tersebut telah merubah wajah kampus sehingga menjadi semakin megah, demikian pula melewati usaha dan kerja sama dengan misionaris Korea, Bapak Lim Jong Hyuck telah mampu membeli tanah diseberang kampus 1, seluas  4200 M2 dengan harga Rp 100.000,-/meter. Sehingga harga seluruhnya dengan pengurusan surat adalah Rp 435.000.000,- Gereja Presbiterial Korea menyumbang separuh harga tanah sedangkan sepenuhnya adalah dari hasil kerja keras jemaat GPIAI EFATA Jl. Brigjend. Sudiarto 1A, Salatiga untuk membayarnya. Saat ini sedang diadakan pemugaran gedung di kampus II. Setela mendapat sumbangan dari Dirjen Bimas Kristen Depag RI.

Dalam wawasan visi misi pemuridan ini mukjizat-mukjizat dialami adalah sebagai berikut:

1)      munculnya para calon hamba-hamba Tuhan yang masuk dan belajar di STEFA dari berbagai wilayah (Sulawesi, Papua, Kalimantan, NIas, Sumatera, NTT dan Jawa)

2)       Para dosen yang mengampu perkuliahan berasal dari berbagai denominasi bahkan berasal dari Luar Negeri

3)      dana operasional baik untuk bea siswa pendidikan, asrama, para dosen, peralataan, pembelian tanah, dan pembangunan kampus 1 dan 2.

  1. PENGUTUSAN

Para kader yagn telah mengalami training maupun para mahasiswa STEFA yang praktik atau weekend diutus untuk melayani di cabang-cabang Sekolah Minggu, Komisi, PIKAT dan merintis daerah baru. Para utusan telah membuka daerah-daerah baru di berbagai daerah tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga sampai ke wilayah negara Malaysia. Di wilayah Malaysia yang masuk dalam kepulauan Kalimantan ini, terdapat 3 daerah  pelayanan. Sebelumnya ada 15 daerah yang dilayani, namun karena kesulitan izin opersional, dana maka sekarang hanya dilayani 3 daerah pelayanan).

Sebagai gereja missioner maka pengutusan dan pembukaan daerah baru dilaksanakan setiap tahun di GPIAI EFATA, Jalan Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga. Sebagai bentuk realisasi pengutusan maka juga dilaksanakan pentahbisan  para hamba Tuhan; sebagai Penginjil, Pendeta Pembantu, Pendeta Muda, dan Pendeta gembala siding. Para utusan ini melayani di berbagai wilayah pulau Jawa dan luar Jawa seperti Kalimantan, Lampung, Sulawesi dan Papua.

  1. PEWARTAAN INJIL

Para utusan telah melaksanakan visi misi Pekabaran Injil sehingga memunculkan cabang-cabang di berbagai propinsi Banten, DKI Jakarta, Lampung, Kalimantan Barat, Jawa Tengah Papua, dan Sulawesi. Sebagai hasil pewartaan Injil maka pada saat ini terdapat 60 cabang GPAI di Indonesia. Dari 90 % cabang pelayanan merupakan luusan dan praktikkan dari STT EFATA.

  1. PEMBANGUNAN JEMAAT

Bertumbuh-kembangnya warga jemaat baik secara kualitas maupun kuantitas akan membutuhkan sebuah tempat ibadah untuk menjadi centrum penyembahan kepada Allah. Dalam perjalanan sejarah GPIAI kasih karunia Allah dalma bidang penyediaan sarana ibadah ini, baik dalam pencarian dan pembelian tanah, izin pembangunan sampai dilaksanakan pembangunan mendapat berkat-berkat yang luar biasa dari Allah sehingga semua pelaksanaan dapat berjalan dengan sukses baik dipusat maupun di daerah.

Sejak tahun 1987 sampai tahun 2010 GPIAI EFATA berhasil membangun dan merenovasi gedung-gedung gereja berikut ini

4)  Gedung GPIAI EFATA  Jl. Brigjend Sudiarto 1A, (Berdiri th 1987, Renovasi th 1995, dan 2008)

5)  Gedung GPIAI EFATA Boyolai (Berdiri th 1985, Renovasi th 2009)

6)  Gedung GPIAI EFATA Jlarem (Berdiri th 1986)

7)  Gedung GPIAI EFATA Ampel (Berdiri th 1989, Renovasi th dan 2006)

8)  Gedung GPIAI EFATA Kendal (Berdiri th 1989, Renovasi th dan 2006)

9)  Gedung GPIAI EFATA Kenteng (Berdiri th 1987, Renovasi th 2006)

10)   Gedung GPIAI EFATA Ekklesia Banten (Berdiri th 1999)

11)   Gedung GPIAI EFATA Gender Kaliwungu Kab Smg (Berdiri th 1999, Renovasi 2007)

12)   Gedung GPIAI EFATA Sraten Kab Smg. (Berdiri th 2000)

13)   Gedung GPIAI EFATA  Klirong Klaten (Berdiri th 2002)

14)   Gedung GPIAI EFATA Krongkong, KalBar (Berdiri th 2001)

15)   Gedung GPIAI EFATA  Purwodadi Cilacap (berdiri tahun 2003)

16)   Gedung GPIAI EFATA Tititareng (2003)

17)   Gedung GPIAI EFATA Soka, Jlarem, K(2003)

18)   Gedung GPIAI EFATA Susukan, Pabelan (2003)

19)   Gedung GPIAI EFATA Sinto KalBar (2004)

20)   Gedung GPIAI EFATA Date KalBar (2004)

21)   Gedung GPIAI EFATA Ojol KalBar (2004)

22)   Gedung GPIAI EFATA Ansang KalBar (2004)

23)   Gedung GPIAI EFATA Senakin KalBar (2004)

24)   Gedung GPIAI EFATA Pangau KalBar  (2004)

25)   Gedung Kapel di Rekesan, Salatiga (renovasi 2005)

26)   Gedung GPIAI EFATA Tulang Bawang Lampung.

MUKJIZAT PENGADAAN GEDUNG GEREJA GPIAI EEFATA

  1. Pembangunan Gedung Gereja Jl. Brigjend. Sudiarto 1A

Tuhan Yesus Sang Gembala Agung dan Kepala Gereja mempunyai rencana yang besar bagi GPIAI EFATA Salatiga dan sehingga telah memberi visi misi untuk memugar gedung gereja secara total mencuat secara tiba-tiba dalam rapat majelis gereja tertanggal 20 April 1998 di rumah Keluarga Bapak Andreas Jarot Gunadi. Visi misi pemugaran gedung gereja yang mencuat tersebut bagaikan bola salju yang menggelinding dari ketinggian. Dari bola salju kecil kemudian meluncur menjadi bola salju yagn semakin lama semakin besar. Visi itu telah membawa seluruh warga jemaat untuk terlibat dalam aksi tersebut setelah bapak gembala sidang memberitakan kepada warga jemaat pada tanggal 27 April 2008 di kebaktian pagi dan sore. Didahului dengan konfirmasi Illahi yang menyatakan bahwa renovasi tersebut sesuai dengan kehendak Allah dalam Tuhan Yesus Kristus, maka Sang Kepala Gereja telah mengutus keluarga Wibowo dari Semarang yang bukan anggota GPIAI EFATA dan tidak tahu menahu tentang program renovasi total datang ke rumah gembala sidang  di Jalan Nakula Sadewa IV/1 Kembang Arum untuk menyerahkan persembahan bagi pekerjaan Tuhan sebesar Rp 5.000.000,- yang diterima oleh ibu gembala sidang, Pdt Nella Kusuma. Persembahan tersebut telah menjadi persembahan sulung bagi renovasi gedung gereja. Tanggal 4 Mei 2008 seluruh warga jemaat telah memberikan persembahan yang pertama bagi pembangunan gedung gereja dan memberikan pernyataan janji iman untuk berkorban bagi keperluan pemugaran dari bulan Mei 2008 sampai dengan Mei 2009.

Tanggal 3 Juni 2008 diadakan kebaktian khusus untuk mengawalinya. Selanjutnya pengurusan izin bangunan dilaksanakan. Sambil menunggu ijin bangunan keluar maka pembelian material dan dan pembenahan untuk pelaksanaan pembangunan. Pembangunan dimulai tanggal 19 Juni  2008 dan akhirnya IMB diterbitkan oleh Pemkot Salatiga yang diwakili oleh Ibu Hj. Niken Lidiastuti dengan IMB No. 5031/195/2008 tertanggal 09 Juli 2008. Terbitnya SK IMB tersebut menandai pemugaran secara resmi dilaksanakan.

Seluruh majelis Gereja dan pengurus komisi serta PIKAT meminta gembala siding memimpin langsung visi misi pembangunan gereja dengan pola piker bahwa di dalam penggembalaan kebersamaan dan kesediaan berkorban seluruh jemaat akan dapat terus terbina dal dikobarkan. Pola berfiir kebersamaan tersebut telah memunculkan tekad seluruh warga jemaat untuk terus memakai gedung gereja Jalan Brigjend. Sudiarto 1A sebagai tempat beribadah. Melalui rapat majelis di rumah Keluarga Bapak Yoseph Cahyono para Majelis  memilih satu diantara 3 orang ahli dalam bidang pembangunan yaitu Sdr. Markus, Sdr. Andreas dan Sdr. Dedy Martono, dan pada akhirnya secara bulat disepakati untuk menyerahkan renovasi gedung gereja kepada Sdr. Dedy Martono. ST., MT. Adapun gambar bangunan gereja ditentukan melewati rapat majelis dan beberapa orang warga jemaat di rumah Bapak Roes Subiyanto. Ada beberapa yang menjadi pilihan. Setelah yang hadir menentukan pilihan melewati adu argumentasi yang cukup seru pada akhirnya memastikan pilihan sebagaimana wujud yang sekarang ini terbangun. Akhirnya pemugaran dapat diselesaikan pada awal Februari 2009 dan diresmikan pada tanggal 09 Maret 2009.

Menilik perjalanan sejarah gereja Brigjend. Sudiarto 1A Salatiga sejak berdirinya sampai keluarnya ijin renovasi, gedung gereja Brigjend Sudiarto 1A berusia 30 tahun kurang 1 bulan (09 Agustus  1978 s.d. 09 Juli 2008) memiliki banyak hal istimewa yang perlu menjadi perenungan, yaitu:

1)          Angka 9 selalu membayangi perjalanan sejarah Gereja Brigjend. Sudiarto 1A, sebagaimana terungkap di bawah ini:

  • 9 Agustus 1978 Walikota Madya DATI II Salatiga S Ragil Pudjono menerbitkan IMB
  • 9 Maret 1985 warga jemaat di Gereja Brigjend. Sudiarto melewati surat dari Sekum Sinode, Pdt. Yahya Sutandi dinyatakan mengundurkan diri dari
  • 09 Juli 2008 Ibu Hj Niken Lidiastuti menerbitkan SK IMB renovasi gedung gereja

2)          Kesamaan Nomor IMB renovasi gedung gereja

Walikota madya DATI II Bapak Indro Suparno yang masa jabatannya terpaut 13 tahun dengan Ibu Hj Niken Lidiastuti sebagai kepala Badan Penanaman Modal dan Perkembangan Usaha Daerah Kota Salatiga menerbitkan IMB dengan nomor yang sama yaitu 503.1.

  • Bapak Indro Suparno bernomor IMB 503.1/155/1995
  • Ibu Niken Lidiastuti 503.1/195/2008

Apakah ini semua hanya kebetulan?

3)          Sebagaimana Tuhan Yesus telah mengubah petros sebuah batu kecil menjadi Petra (Matius 16:18; 1 Korintus 10:4) demikianlah Sang Kepala Gereja telah menggubah jemaat kecil GPIAI EFATA Salatiga memiliki kemampuan yang dahsyat karena dari biaya 1,4 milyard warga jemaat mampu berswadaya 90% dan emgnerjakannya dalam kurun waktu 7 bulan dan tanpa ada bantuan dari luar negeri serupiah pun.

4)          Semangat kebersamaan dalam keyainan kepada Allah Bapa, Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus, disertai tekad yang kuat untuk beribadah serta adanya militansi kesediaan berkorban dan digembalan oleh seorang gembala membuat warga jemaat GPIAI EFATA menihilkan kemustahilan, menjadikan segala kesukaran sebagai akar pembakar dan pengobar bara api illahi yagn ada dalam hati semua lapisan warga jemaat untuk berhasil mewujudkan visi misi merenovasi gedung gereja

5)          Kado istimewa dalam pelaksanaan pembangunan adalah juga diterbitkannya Keputusan Dirjen Bimas Kristen Departemen Agama RI tentang pendaftaran ulang GPIAI. SK No DJ. III/Kep/HK.00.5/257/2008.

6)          Kado istimewa bagi HUT Ke 25 GPIAI EFATA tanggal 9 Mei 2010 ini adalah hutang GPIAI untuk pembangunan gedung gereja ketika gedung gereja diresmikan pemugarannya pata tanggal 09 Maret 2010 sebesar ­+ 210 juta rupiah terlunasi pada awal April 2010 sehingga dalam HUT ini tidak lagi dibayangi dengan beban hutang.  Sehingga perhitungan pengeluran untuk pembangunan gedung gereja Rp 1.451.898.000,- Sedangkan besarnya jumlah pemasukan adalah Rp 1.489.949.477,- Bunga bank sebesar Rp 789.462,- Besar saldo keuangan adalah Rp 38.840.939,-

Gedung GPIAI EFATA Jl. Brigjend Sudiarto 1A dapat diselesaikan dalam kurun waktu 7 bulan. Ini  merupakan prestasi yang amat menakjubkan bagi warga jemaat dan semangat ini menunjukkan dalam ikatan rantai kebersamaan warga jemaat mampu melakukan pekerjaan yang amat luar biasa. Dan semua itu adalah untuk kemuliaan Allah Bapa di sorga.

  1. Tanah untuk gedung GPIAI EFATA Ampel

Disaat warga jemaat berdoa untuk pembangunan gedung gereja di Ampel dan sedang memohon agar diberi tanah oleh Allah, maka Tuhan Yesus Kepala Gereja menggerakkan hati Bapak Ishak yang rumahya diseberang jalan untuk masuk ke gedung gerja dan menawarkan tanah tanpa pembayaran serupiahpun, bahkan warga jemaatpun diharap tidak mengucapkan terima kasih kepadanya.  Karena pak Ishak punya keyakinan bila ia menerima ucapan terima kasih maka semua upah pahalanya menjadi hilang di sorga.

  1. Pembangunan gedung gereja GPIAI EFATA Kendal

Gagasam imtil mendirikan TK Kristen dari beberapa anak Tuhan di Persekutuan Doa Bandung dan realisasinya menyukur dana telah menghasilkan sebuah gedung sekolah untuk TK. Dalam perkembangannya gedung TK sekarang berubah menjadi gedung gereja Kendal.

  1. Pembangunan di gedung gereja Klirong (Klaten), Soko (Jlarem-Ampek) dan Susukan (Sukoharjo, Pabelan)

Pembangunan gereja di daerah tersebut mendapat bantuan dari Pdtl Lim Jung Hyuk, missionaries Korea. Sehingga selama kurun waktu tahun 2001 dan  2003, di daerah tersebut di bangun gedung gereja baru. Sedangkan di daerah Gender juga gedung gereja mengalam renovasi,

  1. Pembangunan gereja di Sewan Kebon (Banten)

Pembangunan gereja di Sewan Kebon Tangerang memiliki kemiripan dengan yang terjadi di jemaat, Ampel, karena pembangunan ini juga mendapat pertolongan dari Tuhan melalui seorang yang mempersembahkan tanah untuk pengadaan gedung gereja.

  1. Pembangunan GPIAI EFATA Patemuan Cilacap

Pengurusan surat ijin di daerah tersebut mengalami hambatan dari kelompok tertentu sehingga pembangunan gedung gereja tidak dapat segera dilaksanakan. Namun melewati doa dan puasa dari gembala jemaat dan seluruh warga jemaat maka Tuhan Yesus Sang Gembala Agung menyatakan kuasanya sehingga satu demi satu para penghambat mengalam musibah ada yang sakit bahkan meninggal dan karena hal-hal ini maka pembangunan pun dapat dilangsungkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: